Deli Serdang – Bupati Deli Serdang,H dr Asriludin Tambunan yang sangat memihak kepentingan masyarakat deli serdang dan menginstruksikan kepada jajarannya agar melaksanakan dengan sungguh – sungguh Program tersebut.

Program Bupati menjadi tagline dan pendekatan utama dalam transpormasi pelayanan publik di kabupaten deli serdang untuk mewujudkan pemerintahan yang lebih responsif,akuntabel,dan memberi kemudahan akses bagi masyarakat.
Tetapi petugas puskesmas UPT sialang, kec Bangun Purba yang berinisial MRD,tidak mendukung program Bupati tsb.
Ini yang dialami masyarakat si baganding,kec bangun purba yang ingin berobat di puskesmas UPT sialang pada hari Senin (2/2/2026)karena di gigit anjing.
Saat awak media Harian Basis.Com, menyambangi kediaman keluarga korban gigitan anjing,yg bernama Tomas, Ulina dan Emmiya (3/2/2026)dan tercatat menjadi pasien puskesmas UPT sialang.
Ibu ulina menyampaikan keluhan nya terkait pelayanan petugas di puskesmas UPT sialang yang berbelit – belit, tidak seperti pelayanan di RSUD Bangun Purba yang depan menangani pasien yang kena gigit anjing juga dan gratis.
Tambah ibu Ulina lagi,petugas puskesmas berinisial MRD diduga melakukan pemerasan dimana petugas puskesmas tsb meminta sejumlah biaya untuk suntik vaksin rabies yg dibandrol 600 ribu sekali suntik/pasien dikali empat pasien dan setiap pasien empat kali suntik.
Ketika awak media harian basis.com mengkonfirmasi yang bersangkutan(petugas puskesmas berinisial MRD)atas keluhan pasien, MRD tidak mengakui nya.(3/2/2026)
Yang membuat ibu Ulina tambah bingung MRD menyuruh ibu Ulina harus mengantar kan kepala anjing yang menggigit itu ke medan untuk di LAB dgn biaya ditanggung sendiri 55 ribu.
Yang jadi problema, jika ada masyarakat deli serdang yang kena gigit anjing dan hidup masyarakat tsb dibawah garis kemiskinan bisa dipastikan si pasien sudah mati duluan sebelum ada tindakan medis.
Ibu Ulina berharap kepada Bupati Deli Serdang untuk mengevaluasi kinerja petugas di puskesmas UPT sialang,agar apa yang dialami ibu Ulina dan keluarganya tidak dialami oleh masyarakat deli serdang lainnya.
(Thoemanggor)






