Bangkalan – Ada sebuah prinsip tua dalam dunia akademik dan kebijakan, sebuah gagasan baru memerlukan dua hal untuk dapat bergerak mengubah dunia kebenaran dan kepercayaan.
Kebenaran ditemukan melalui riset, observasi, dan pengalaman lapangan. Kepercayaan dibangun melalui pengakuan dari mereka yang memiliki otoritas dan rekam jejak yang diakui publik.
Sebuah buku dikatakan berhasil bukan hanya ketika ia selesai ditulis, melainkan ketika ia diakui oleh mereka yang paling berhak menilainya para pemegang amanah publik, penegak hukum, pemimpin daerah, akademisi, dan tokoh yang sehari-hari bersentuhan langsung dengan persoalan yang diangkat. Dalam konteks itulah, kehadiran buku “Common Sense In Action: Membangun Kesadaran Etika Melalui Pengolahan Air Limbah”,
lahir dari kolaborasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bangkalan, praktisi lingkungan hidup,dan aplikator Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ini memiliki makna yang jauh melampaui sebuah penerbitan biasa.
Tidak banyak buku yang mampu menyatukan dalam satu halaman dukungan dari seorang jenderal polisi dari Mabes Polri, seorang wakil kepala kejaksaan tinggi, perwira menengah dari Polda dan BIN, komandan pangkalan militer, rektor universitas, kepala puskesmas, hingga pemimpin organisasi keagamaan terbesar di tingkat cabang.
Namun coretan karya unik inilah yang ditulis oleh Romi Harris Saputra (Praktisi Lingkungan Hidup) putra Daerah Kabupaten Sidoarjo, Kresna Bayu (Ketua Umum HMI Bangkalan), Akhmad Syahruddin (Aplikator Ipal) dan Bahrulloh (Kepala Bidang HAM dan Lingkungan Hidup HMI Bangkalan), yang ketiganya merupakan putra Daerah Kabupaten Bangkalan, dapat berhasil melakukannya dan ini bukan kebetulan. Ini adalah cerminan dari bobot persoalan yang diangkat dan ketulusan niat yang mendasarinya. (Hen)
