
Sebagai kelompok intelektual yang tumbuh dari dan bagi masyarakat,
mahasiswa memikul tanggung jawab moral dan sejarah yang sangat besar
dalam menjaga serta memperjuangkan hak-hak rakyat, termasuk hak dasar
atas lingkungan hidup yang layak, khususnya di wilayah Kabupaten
Bangkalan.
Dalam peta gerakan sosial di tingkat lokal, Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI) menempati posisi strategis sebagai penggerak perubahan, yang
berfungsi menjembatani pemikiran ilmiah yang berkembang di lingkungan
kampus dengan realitas kehidupan sosial yang terjadi di tengah masyarakat
luas.
Berlandaskan nilai-nilai dasar perjuangan yang dipegang teguh, para kader HMI dituntut tidak hanya cakap berdiskusi di ruang akademis, tetapi juga
harus berani turun langsung ke lapangan untuk memperjuangkan
kepentingan warga yang hak ekologisnya telah dirugikan akibat pencemaran.
Peran ini dapat diwujudkan melalui penerapan nilai-nilai perjuangan tersebut dalam bentuk kajian mendalam, komunikasi aktif, dan kolaborasi erat dengan para ahli, praktisi, serta masyarakat umum.
Pada bulan April tahun 2026 ini, Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Bangkalan mencatatkan langkah nyata dengan keberhasilan membangun fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di salah satu unit pelayanan kesehatan, tepatnya di Puskesmas Tanah Merah.

Berbeda dengan gerakan yang hanya berhenti pada orasi semata, para kader
HMI bergerak bersama para praktisi lingkungan dengan menyampaikan
usulan teknis tertulis dan melakukan dialog intensif dengan pengambil
kebijakan di tingkat daerah.
Inisiatif ini lahir dari kolaborasi antara Himpunan Mahasiswa Islam Cabang
Bangkalan (Kresna Bayu/Ketua Umum dan Bahrulloh/Ketua Bidang Hak
Asasi Manusia serta Lingkungan Hidup) bersama Ahmad Syahruddin
sebagai Aplikator alat IPAL, yang dimotori oleh Romi Harris Saputra selaku
Praktisi Lingkungan Hidup sekaligus Pimpinan Umum media BASISNEWS.
Gagasan ini muncul setelah melihat fakta bahwa masih banyak industri
hingga instansi pemerintah yang belum memiliki sarana pengolahan
limbah yang memadai dan banyaknya alat IPAL di puskesmas-puskesmas
yang tidak berfungsi dan tidak beroperasional secara baik dan benar.
Berdasarkan kondisi tersebut, dipandang sangat perlu dan mendesak bagi
insan akademis dan bagian dari pencipta untuk segera memberikan perhatian
serta mengambil sikap tindak nyata dalam mengatasi persoalan tersebut.
Sebagai organisasi yang menjunjung tinggi misi pelayanan bagi umat dan
bangsa, HMI di Kabupaten Bangkalan wajib melakukan pembaruan metode
advokasi agar lebih relevan dan adaptif menghadapi kompleksitas krisis
lingkungan masa kini.
Perjuangan para kadernya tidak boleh lagi terbatas pada pola gerakan
konvensional yang hanya bereaksi saat momen politik tertentu, melainkan
harus menunjukkan konsistensi dalam mengawal isu lingkungan yang
berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat kecil.
Melalui pemanfaatan media dan jejaring sosial, mahasiswa dapat
menghasilkan karya edukatif yang kreatif mengenai hukum dan lingkungan,
guna membentuk pandangan publik yang positif serta mendukung gerakan
pelestarian alam di wilayah Madura.
Dengan menggabungkan kekuatan pemikiran di ruang diskusi dan aksi nyata
di lapangan, HMI mampu meruntuhkan sekat pemisah yang selama ini
memisahkan dunia akademis dari kenyataan penderitaan masyarakat yang
terpaksa hidup berdampingan dengan pencemaran yang tak kunjung usai.

Lebih jauh lagi, semangat kepemimpinan transformatif yang dimiliki oleh
kader HMI harus mampu menyatukan seluruh potensi elemen pemuda di
Bangkalan agar bergerak seirama dalam satu tujuan pelestarian lingkungan.
Mahasiswa harus mampu menempatkan diri sebagai mitra yang kritis namun
tetap konstruktif bagi pemerintah daerah.
Dalam peran ini, mereka tidak hanya pandai menyoroti kesalahan kebijakan,
tetapi juga mampu menyajikan rancangan alternatif kebijakan berbasis kajian
ilmiah untuk memecahkan rumitnya persoalan persampahan dan limbah.
Fungsi penyeimbang kekuasaan ini sangat krusial, guna memastikan bahwa
aspirasi masyarakat di tingkat terbawah yang selama ini terabaikan dapat
didengar dan dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan.
Sinergitas ini menjadi bukti bahwa gerakan mahasiswa masa kini, yang
berfokus pada isu hukum dan lingkungan, harus didasari oleh data lapangan
yang akurat serta tawaran solusi yang dapat diterapkan secara nyata.
Dengan menggabungkan kekuatan jaringan organisasi HMI dan pengetahuan
ilmiah para praktisi, gerakan ini berhasil mendorong instansi terkait untuk
meninggalkan sikap acuh tak acuh dan segera mengambil langkah pemulihan
guna melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran kuman patogen yang
mengancam kesehatan.
Langkah pergerakan ini semakin diperkuat dengan penerapan metode
pengawasan berbasis sains, yang bertujuan untuk mengukur seberapa jauh
dampak peresapan limbah dari Puskesmas Tanah Merah telah merusak
kualitas lapisan air tanah dangkal di wilayah sekitarnya.
Upaya kolektif ini juga melibatkan peran awak media dan tenaga kesehatan
muda yang memahami betul risiko penyebaran wabah akibat buruknya
sistem sanitasi fasilitas pelayanan kesehatan.
Kehadiran elemen gerakan
mahasiswa di titik krusial masalah lingkungan ini mampu menembus
kekakuan sistem birokrasi yang selama ini cenderung menutup-nutupi
kelemahan dalam pengelolaan fasilitas publik daerah.
Sebagai penutup dari tahap penguatan gerakan, kerja sama ini berhasil
mengukuhkan komitmen bersama antara para pemerhati lingkungan, yang
diwakili oleh Ketua Bidang Hak Asasi Manusia dan Lingkungan Hidup HMI
Cabang Bangkalan beserta para praktisi lingkungan, untuk memulihkan
infrastruktur yang telah rusak.
Komitmen ini ditegakkan dengan keyakinan penuh akan urgensi
pelaksanaannya, tanpa diragukan lagi ketersediaan sumber dayanya, karena
langkah ini mutlak diperlukan untuk mencegah pewarisan lingkungan yang
buruk dan tidak sehat bagi generasi mendatang.






