TEHERAN, HARIANBASIS.COM – Iran diduga kuat memberikan bantuan intelijen, pelatihan militer, hingga informasi penentuan target kepada kelompok Houthi untuk melancarkan serangan terhadap Arab Saudi dan sekutunya di Yaman.
Berdasarkan informasi intelijen Arab Saudi dan aliansi anti-Houthi di Yaman, bantuan tersebut memungkinkan Houthi meningkatkan kemampuan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) secara signifikan. Dukungan itu juga disebut berperan dalam keberhasilan Houthi merebut sejumlah wilayah strategis di Yaman, termasuk kawasan pesisir dekat Selat Bab al-Mandeb yang menjadi jalur vital pengiriman minyak Arab Saudi.
Kelompok Houthi tercatat menyerang kapal tanker, fasilitas energi, hingga bandara Arab Saudi. Salah satu serangan di Riyadh pada akhir pekan lalu dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 orang.”Hubungan tersebut sangat, sangat kuat di tingkat operasional,” kata Danny Citrinowicz, mantan kepala divisi Iran pada badan intelijen pertahanan Israel, dikutip dari The Wall Street Journal pada Jumat (16/10/2026).
Menurut Citrinowicz, Iran dan Houthi memiliki kepentingan strategis yang sama, dimana serangan terhadap Arab Saudi dapat meningkatkan tekanan regional sekaligus mendorong kenaikan harga minyak dunia.Iran Diduga Kirim Senjata dan Personel Militer Hubungan Iran dan Houthi telah berlangsung selama bertahun-tahun, terutama setelah kelompok tersebut merebut ibu kota Yaman, Sana’a, pada 2014. Iran diketahui mendukung Houthi melalui pengiriman persenjataan serta pelatihan yang melibatkan personel Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan kelompok Hizbullah dari Lebanon.
Bantuan tersebut mencakup pelatihan perakitan rudal dan drone serta peningkatan kemampuan penggunaannya dalam pertempuran.Ketegangan terbaru muncul pada Juli 2026 ketika Iran mengirimkan dua penerbangan Mahan Air ke wilayah yang dikuasai Houthi.
Penerbangan itu secara resmi digunakan untuk mengangkut jemaah dan pejabat Houthi yang menghadiri pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Teheran.Namun, berdasarkan informasi intelijen yang diperoleh pihak Arab Saudi dan sekutunya, pesawat tersebut diduga turut membawa perwira paramiliter Iran, komponen drone, sistem pemandu rudal, dan detonator.
Pasukan yang didukung Arab Saudi kemudian mengebom landasan pacu Bandara Sana’a untuk menghentikan penerbangan kedua.Pejabat senior Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, membantah tuduhan tersebut.”Menggambarkan penerbangan sipil ini sebagai operasi untuk mengangkut komandan militer dan senjata hanyalah upaya untuk membesar-besarkan insiden tersebut, membenarkan serangan terhadap bandara Sana’a, serta merampas hak warga negara untuk bepergian,” ujarnya.
Serangan Houthi Semakin CanggihPertempuran kembali meningkat pada awal September 2026, ketika Houthi melancarkan serangan besar terhadap pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Dalam operasi tersebut, Houthi berhasil memasuki kota pelabuhan Mokha dan merebut wilayah di sekitar Selat Bab al-Mandeb.
Serangan itu menggabungkan pengerahan pasukan darat dengan rudal dan drone, termasuk drone yang dikendalikan melalui jaringan serat optik. Sejumlah pihak yang menentang Houthi menyebut taktik tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan militer kelompok itu.
Seorang pejabat anti-Houthi bahkan menyatakan bahwa perwira Garda Revolusi Iran berada di garis depan untuk membantu mengarahkan serangan rudal dan drone.Keberhasilan Houthi memperluas penguasaan wilayah pesisir Laut Merah juga menambah tekanan terhadap jalur pelayaran regional, bersamaan dengan ancaman Iran terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Iran Bantah Campur Tangan di YamanMeski menghadapi berbagai tuduhan, Iran membantah terlibat langsung dalam operasi militer Houthi.”Iran tidak mencampuri urusan Yaman,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, bulan lalu.
Baghaei menegaskan bahwa Houthi merupakan kelompok independen yang menentukan kebijakannya sendiri. Bukhaiti juga menyatakan bahwa tuduhan bantuan Iran mengabaikan kemampuan Houthi dalam mengembangkan persenjataan secara mandiri.
Kendati demikian, laporan panel ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2024 menemukan bahwa Houthi telah membentuk ruang operasi gabungan di Lebanon dan Irak untuk mengoordinasikan kegiatannya.Pengamat Yaman dari lembaga New America, Adam Baron, menilai dukungan jaringan kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran turut berkontribusi terhadap kemajuan Houthi.”Dukungan yang diterima Houthi dari Iran dan aktor-aktor lain dalam ‘Poros Perlawanan’ tidak dapat dimungkiri telah memuluskan jalan bagi pencapaian pesat yang mereka raih dalam beberapa bulan terakhir,” katanya. (*Red*)





